Istilah
autisme berasal dari kata “autos” yang berarti sendiri. Dan dari “isme” yang
berarti aliran. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya
sendiri. Autisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan
gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan
berbahasa, dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak autisme seperti
hidup dalam dunianya sendiri (Handojo,
2003).
Autisme adalah
suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara
berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda,
biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik
sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak ataupun dewasa dan semua etnis (Faisal Yatim dalam Kasih, 2006).
Autisme merupakan sindroma yang sangat
kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan
emosional, sulit dalam komunikasi timbal balik, minat terbatas, dan perilaku
tak wajar disertai gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipic).
Gejala ini biasanya telah terlihat sebelum usia 3 tahun (Jawa Pos, Agustus 2005). Handojo menyebutkan 2 jenis perilaku
autisme, yaitu:
·
Perilaku Eksesif (Berlebihan) : Yang termasuk perilaku eksesit adalah
hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menyepak, menggigit,
mencakar, memukul, dan sebagainya. Di sini juga sering terjadi anak yang
menyakiti diri sendiri (self abuse).
· Perilaku
Defisit (Berkekurangan) : Yang ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial
kurang sesuai, defisit sensoris sehingga di kira tuli, bermain tidak benar dan
emosi yang tidak tepat misalnya tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab,
dan melamun.
Berdasarkan
waktu munculnya gangguan ada dua jenis autisme, yaitu:
- Autisme
sejak masa bayi
Yaitu sejak
bayi anak sudah menunjukkan perbedaan-perbeda-an dibandingkan dengan anak
non autistik
- Autisme
regresif
Yaitu ditandai dengan kemunduran
kembali perkembangan dan kemampuan yang diperoleh jadi hilang.
Autis
adalah sindrom yang sering disalah pahami oleh kebanyakan orang. Anak-anak
penyandang autis sering kali dianggap tidak waras, gila, dan berbahaya. Sungguh
suatu pemahaman yang sangat tragis dan menakutkan. Dengan presepsi masyarakat
yang sedemikian rupa, maka perkembangan dan keberadaan anak autis menjadi tidak
diperhatikan. Jangankan untuk sekolah, untuk berinteraksi saja anak autis
sering tidak mendapatkan tempat.
Begitu
sulit mengubah presepsi dan penerimaan masyarakat terhadap anak autis,
barangkali juga sesulit menemukan yang menjadi penyebab autis itu sendiri.
Berbagai spekulasi telah disampaikan mengenai penyebab autism. Beberapa ahli
menyatakan autisme disebabkan oleh keturunan. Ahli lain mengatakan penyebab
autis adalah pola makan dan gaya hidup.
Secara
neurologis anak autis adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan otak
terutama pada area bahasa, social, dan fantasi. Hambatan perkembangan inilah
yang menjadikan anak autis memiliki perilaku yang berbeda dengan anak-anak
biasanya. Pada beberapa bentuk perilaku anak autis memiliki kecenderungan yang
ekstrem. Dalam hal akademik juga sering ditemukan anak-anak yang memiliki
kemampuan spesifik dan melebihi kemampuan anak-anak seusianya. Sekalipun
demikian, rata-rata anak autis tidak memiliki kemampuan rata-rata di semua
bidang.
Mencermati
kondisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak autis sebenarnya memiliki
potensi yang dapat dikembangkan sebagai pegangan hidupnya kelak. Hanya saja
model pengembangan diri dan pendidikan bagi autis harus disusun dengan standard
an komposisi berbedadengan anak kebanyakan. Hal ini mengingat karakter anak
autis yang relative berbeda dan unik.
Penyebab
autis antara lain gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat(otak).
Biasanya gangguan ini terjadi dalam 3 bulan pertama masa kehamilan bila
pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat tidak sempurna. Penyebab yang lain
bisa karena virus atau jamur, kekurangan jumlah sel otak. Menurut para
peneliti, faktor genetic juga memegang peranan kuat dalam gejala ini. Karakteristik
dari anak autis antara lain :
Ø Tidak memiliki
bahasa.
Ø Mudah marah
mudah tertawa dalam satu waktu yang bersamaan.
Ø Sulit menangkap
isi pembicaraan orang lain tidak lancar dalam berbicara/ mengemukakan ide.
Ø Sering
menggunakan isyarat dalam berkomunikasi.
Ø Tidak responsife
jika diajak berbicara seakan tidak mendengar walaupun tidak tuli.
Ø Suka mengamuk
jika keinginannya tidak terpenuhi.
Ø Suka
menyendiriterhadap lingkungan sekitar.
Gejala-gejala
autism menurut Delay & Deinaker (1952) dan Marholin & Philips (1976)
antara lain:
1.
Senang
tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat,
dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah.
2.
Selalu
diam sepanjang waktu.
3.
Jika
ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton,
kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata
kemudian diam menyendiri lagi.
4.
Tidak
pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi
sekelilingnya.
5.
Tidak
tampak ceria.
6.
Tidak
peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya.
Secara umum anak autis mengalami kelainan dalam berbicara,
kelainan fungsi saraf dan intelektual, Hal tersebut dapat terlihat dengan
adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya.
Menurut Grace Ketterman (dalam Kasih 2006),
memahami anak memerlukan informasi dan waktu untuk memikirkan fakta-faktanya
dan meng-aplikasikan pengetahuan tersebut pada setiap anak. Pemahaman
autisme merupakan pengetahuan yang mencakup segala informasi yang berhubungan
dengan autisme yaitu merupakan gangguan perkembangan pada anak dalam hal
perilaku, sosialisasi, dan bahasa yang harus diketahui oleh orang tua. Ibu
se-bagai salah satu orang tua anak yang autisme sekiranya membutuhkan pengetahuan
tentang autisme dan dengan begitu sang ibu akan bisa memahami dan mengetahui
tentang autisme.
KESIMPULAN
Anak penderita
autis memerlukan bimbingan yang khusus dan perhatian yang khusus/ekstra. Dari
segi kelakuan anak autis memang memiliki hambatan namun mereka juga mempunyai
bakat yang perlu dikembangkan. Faktor utama yang harus diperhatikan guna keberhasilan
dalam pelayanan penyembuhan atau bantuan bagi perkembangan anak autis adalah
adanya bimbingan, perhatian dari keluarga terutama ibu, masyarakat, dan
orang-orang sekitar, berhubungan dengan ketepatan dalam menentukan spesifikasi
problem serta kekurangan dan kelebihan yang ada pada anak yang utama yang harus
diidentifikasi. Hal ini perlu pengetahuan dan pemahaman serta kejelian atas
perkembangan anak dari orang tua apakah sudah sesuai dengan tugas perkembangan
anak atau belum. Jika sudah terdeteksi sejak dini tentunya akan semakin cepat
proses penangannya Banyak metode dan cara untuk mendidik anak autis.
Tujuan utama
dari layanan terhadap anak yang khusus (autis) adalah mengurangi gejala
perilaku yang mempengaruhi fungsi perkembangan anak dan mendorong mengembangkan
fungsi perkembangan anak seperti mengembangkan kemampuan berbahasa, tingkah
laku, penyesuaian diri, sosialisasi, dan ketrampilan bina diri. Jika guru dan
orang tua akan mengembangkan program, maka terlebih dahulu tentukan tujuan
yang akan dicapai dan dilihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai anak.




0 komentar:
Post a Comment